Jangan Sebut Mereka Hantu – Kathleen McConnell
Buku ini bercerita mengenai kisah nyata penulisnya sendiri, Kathleen McConnell. Dia bercerita mengenai pengalamannya mengenal dan mengasuh arwah tiga anak-anak yang ditemuinya saat dia pindah ke sebuah rumah bersejarah yang dikenal dengan sebutan Fontaine Manse, di sebuah tempat di Amerika Serikat.
The True Story of Hansel and Gretel
Membutuhkan beberapa saat bagi saya untuk bisa mencerna isi novel yang satu ini. Ketika membaca judulnya di cover, saya mengira akan menemukan kisah lama mengenai dua kakak-beradik yang kelaparan dan menemukan gubuk berlapis kue dan permen. Namun, perkiraan saya salah besar. Sang penulis buku ini, Louise Murphy, dengan cantiknya “mengajak” Hansel dan Gretel untuk maju ke beberapa zaman ke depan dan “menerjunkan” mereka zaman di mana peristiwa Holocaust terjadi. Yap, Hansel dan Gretel terjebak di masa kekejian Nazi!
Spirit Dari Sebuah Legenda Ga’Hoole
BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan. Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.
Pluto
Sama seperti dengan karya aslinya, Pluto mengisahkan mengenai sebuah robot misterius yang menghancurkan para robot-robot super kuat lainnya. Di dunia manga ini ada tujuh robot yang disebut sebagai yang terkuat: Mont-Blanc, Gesicht, Brando, North #2, Epsilon, Heracles, dan Atom. Manga ini diawali dengan kematian Mont-Blanc dan Gesicht sebagai seorang robot detektif ditugaskan untuk menyelidiki kematiannya. Seiring dengan kemajuan penyelidikan Gesicht, satu demi satu robot lainnya mulai dihabisi oleh robot misterius tersebut.
Eyeshield 21
Ditulis oleh Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata, Eyeshield 21 mengambil tema olahraga yang tidak lazim: American Football. Di Jepang sendiri American Football bukan sebuah olahraga yang terkenal seperti kasti maupun sepakbola sehingga tantangan menulis manganya jelas berat. Toh, seperti halnya Slam Dunk dan Hikaru no Go, manga ini membuktikan bahwa asalkan kisahnya menarik maka orang akan membacanya. Eyeshield 21 berjasa memperkenalkanku (dan banyak orang lain) mengenai olahraga yang menggabungkan otak dan otot ini.
Perahu Kertas
Novel ini, bergenre populer, khas gaya tutur anak muda perkotaan, terutama nampak dalam dialog-dialog di dalamnya. Begitu juga kisah seputar kuliah, buku dan pesta ada dalam cerita. Agak berbeda misalnya dengan “Filosofi Kopi” yang cenderung serius, naratif dan jarang melibatkan kelucuan serta kekoyolan. Entahlah, mungkin ini semacam terobosan untuk lebih dekat dengan pembaca. Orang Indonesia, khususnya anak-anak muda itu sudah bersyukur mau membaca, tak bijak membebani pembaca dengan hal-hal yang berat.